Those Sweet Times - Chapter 3

 

Chapter 3 - Udang karang dan Orang gila


Berikut ini adalah beberapa Momen WeChat Chuyan.

13 Oktober: Bagaimana perasaan seseorang setelah makan roti kukus dan acar mustard selama seminggu.


 

8 Oktober: Lapar, aku ingin mengambilnya jika dari mereka. 


26 September: Tidak mampu membeli yang baru, menjahitnya sendiri. 



……

Xiang Nuan tidak bisa mempercayai matanya. Dia telah melihat banyak Momen di mana orang-orang memamerkan betapa kayanya mereka. Ini adalah pertama kalinya dia melihat seseorang memamerkan betapa miskinnya dia. Dari tulisan Moments-nya, sepertinya dia tidak merasa malu atau frustrasi karena menjadi miskin. Sebaliknya.... dia tampaknya bangga tentang hal itu?

Dari planet mana orang aneh ini berasal….

Xiang Nuan sangat ingin tahu sehingga dia ingin bertanya kepadanya tentang hal itu, tetapi itu adalah masalah pribadinya. Selain itu, dia hanya mengenalnya baru beberapa hari itupun secara online, tidak pantas untuk menanyakannya. Dia menekan keinginan untuk bertanya dan kembali ke permainannya.

Chuyan memberitahu Xiang Nuan dalam permainan: Aku sibuk besok, kau bermain sendiri.

Xiang Nuan berpikir bahwa Chuyan mungkin perlu bekerja besok, meskipun ini hari Sabtu, karena dia sangat miskin. Dia menjawab: Ya, baiklah.

Chuyan memberitahunya lagi: Besok, lakukan saja pertandingan latihan, jangan bermain dengan pemain lain.

Ini Nuannuan: Kenapa?

Chuyan: Jadi kau tidak akan merusak permainan orang lain, itu seperti melakukan beberapa perbuatan baik.

Ini Nuannuan: .....Pergi sana ke neraka!

Xiang Nuan memang tidak terlalu percaya diri bermain dengan orang lain, dia pasti akan dimarahi oleh rekan satu timnya. Dengan Chuyan, meskipun rekan satu timnya masih meneriakinya, setidaknya dia merasa dia bukan satu-satunya alasan kekalahan mereka.... QAQ

Mereka bermain sampai jam 10 malam itu. Xiang Nuan bertanya kepada Chuyan: Kau tidak harus bangun pagi untuk bekerja besok?

Chuyan: Aku tidak punya pekerjaan besok.

Hmm?

Xiang Nuan bingung dan bertanya kepadanya: Lalu apa yang akan kau lakukan besok?

Chuyan: Mendapatkan kredit pelatihan.

Ini Nuannuan: Kalau begitu kau….

Lalu bagaimana kau mencari nafkah.... Dia sebenarnya ingin bertanya padanya tetapi takut dia akan menyinggung perasaannya.

Chuyan: Bagaimana denganku?

Ini Nuannuan: Bukan apa-apa.

Chuyan: Tunggu, biarkan aku mendapatkan camilan malamku.

Ini Nuannuan: Aku iri pada orang yang memiliki camilan malam.

Chuyan: Lapar?

Ini Nuannuan: Lapar.

Chuyan: Mau udang?

Ini Nuannuan: Ya….

Chuyan: Aku bisa memakannya sekarang.

Ini Nuannuan: Haha, kau pasti bercanda. Apakah udang karangmu berbentuk bulatan putih dan cocok dengan acar mustard?

Chuyan: ……

Chuyan tidak menjawab selama beberapa menit. Saat Xiang Nuan berpikir bahwa dia mungkin marah padanya, dia mengirim foto.

Udang merah berapi-api yang berkerumun di kotak take out, yang setengahnya direndam dalam saus, tampak cukup menggugah selera.

Itu tampak lebih menarik terutama di malam hari.

Xiang Nuan mau tidak mau menjilat bibirnya, sebagian karena iri dan sebagian karena kebingungan. Dia bertanya kepadanya: [Karena kau punya uang untuk memesan udang karang, kenapa kau memposting di Momen-mu bahwa kau makan roti kukus setiap hari?]

[Chuyan: Ini hanya untuk bersenang-senang.]

***

Lin Chuyan bersandar di kursi di kamar asramanya dengan satu tangan memegang ponselnya. Setelah dia mengirim pesan terakhir, dia memperhatikan bahwa udang karang yang baru saja dia bawa pulang sudah sedikit berkurang.

Teman sekamarnya seperti sekelompok serigala kelaparan.

Lin Chuyan: "Simpan beberapa untukku."

Lin Chuyan selalu berada dalam posisi yang kurang menguntungkan saat berjuang untuk mendapatkan makanan yang terbatas⏤⏤Dia makan terlalu lambat.

Bibir Zheng Dongkai semuanya merah, dengan udang karang di kedua tangannya, dan bertanya pada Lin Chuyan sambil mengunyah, "Kenapa kau tidak membeli lebih banyak?"

Zheng Dongkai adalah teman sekelas Lin Chuyan dan teman sekamar di perguruan tinggi. Rambutnya dicat coklat muda dan dia memakai kalung anjing yang digunakannya seperti kalung. Dia berpakaian dengan berani sehingga lawan jenis akan memperhatikannya.

Lin Chuyan tidak menanggapi Zheng Dongkai. Dia menundukkan kepalanya dan melihat di teleponnya bahwa Nuannuan telah mengirim serangkaian elipsis.

Zheng Dongkai bertanya lagi, “Chuyan, bisakah kau meminjamkanku uang? Aku telah menghabiskan uang sakuku untuk bulan ini.”

"Oke, tunggu sampai aku pergi mendonorkan spermaku besok."

Zheng Dongkai tersedak dan mulai batuk. Dia menepuk dadanya setelah gelombang batuk yang tak terkendali dan berkata, “Tidak perlu. Kesehatanmu lebih penting.”

Dua teman sekamar lainnya, Mao Maoqiu dan Da Yu, memandang mereka dengan bingung.

Setelah beberapa saat, Zheng Dongkai menghela nafas panjang dan berkata dengan sedih, "Aku sangat merindukan hari-hari di sekolah menengah ketika aku bisa meminjam uang darimu."

Lin Chuyan juga tampak terkulai, "Sama."

Selama sekolah menengah, uang datang kepadanya seperti air yang mengalir dari keran terbuka, datang dengan mudah dan sepertinya tidak ada habisnya. Dia bisa menghabiskannya sesukanya.

Tapi sekarang.... Huh.

Sementara dia mengasihani dirinya sendiri, ada seseorang yang berteriak di lorong, “Kami kekurangan satu pemain untuk bermain Mahjong. Ada yang tertarik?”

Lin Chuyan bergegas membuka pintu dan berteriak di lorong, "Aku masuk."

"Lin Chuyan?"

“Ya, ini aku.”

"Pergi sana!!!”

".........."

Lin Chuyan semakin sedih.

Tahun ajaran lalu, dia berhasil bermain Mahjong dan menghasilkan banyak uang dari itu.

Semester ini.... semua para pemain Mahjong di sekolah memboikotnya. Bahkan mereka yang suka bermain kartu juga diam-diam melarangnya.

Zheng Dongkai: "Chuyan, mungkin kau harus mencari pekerjaan sampingan."

"Kenapa kau tidak mencari pekerjaan sampingan?"

“Orang tuaku tidak memotong uang sakuku untuk memperkuat kemampuanku untuk hidup mandiri. Hahahahaha….” Zheng Dongkai mulai menertawakan. Meskipun mereka adalah teman baik, Zheng Dongkai selalu mengeluh tentang fakta bahwa Lin Chuyan dapat dengan mudah menarik perhatian gadis-gadis hanya dari penampilannya sementara dia harus mencoba metode lain dan masih lajang meskipun melakukan apapun.

Mao Maoqiu dan Da Yu mungkin berpikir sama dan juga tertawa.

Ketiga pemuda itu tertawa bersama.

Lin Chuyan mengeluarkan gunting dari kotak pensil dan bertanya kepada mereka, "Apakah guntingku terlihat bagus?"

"Maksudmu apa…."

"Kalian, kupaslah udang karang untukku."

"Haha, bagaimana jika kami tidak mau?"

"Tunggu sampai kalian semua tertidur, aku akan memotong penis kalian."

"Apa-apaan! Kau pikir kami mempercayaimu, hahahaha!”

"Ah...."

Lin Chuyan memiliki tampilan yang tampan dan elegan. Kulit pucatnya tampak lebih pucat di bawah cahaya putih di dalam ruangan. Kontras dari cahaya dan bayangan di wajahnya, dengan sepasang mata gelap dan cerah, membuatnya terlihat sangat berbeda... agak jahat.

Dia menyeringai, terlihat lebih jahat.

Semua teman sekamarnya berhenti tertawa! Meskipun mereka tidak mempercayainya... bagaimana jika dia benar-benar serius!

Mereka semua memikirkan hal yang sama dan mulai mengupaskan udang karang untuknya.

Pada akhirnya, Lin Chuyan berbicara dengan tidak percaya saat dia menikmati udang karang, “Kalian bahkan percaya? Bodoh."

Teman sekamarnya: Bajingan! ┭┮﹏┭┮

Lin Chuyan memperhatikan bahwa layar ponselnya telah menyala saat dia makan. Nuannuan mengiriminya pesan lain.

[Ini Nuannuan: Bisakah kau memberitahuku?]

[Chuyan: ?]

[Ini Nuannuan: Kenapa kau membuat Momen itu? Aku benar-benar ingin tahu.]

[Chuyan: Kau harus mengatakan 'Dewa Chu kuat, aku menyerah.']

[Ini Nuannuan: Dewa Chu kuat, aku menyerah.]

[Chuyan: Kau harus lebih bangga.]

[Ini Nuannuan: Katakan saja, cepat.]

[Chuyan: Aku mempostingnya agar orang tuaku melihatnya.]

Sebuah bola lampu tiba-tiba menyala di otak Xiang Nuan.

[Ini Nuannuan: Ya ampun, kau sangat tidak tahu malu! Kau ingin meningkatkan uang sakumu dari orang tuamu dengan bermain seolah-olah miskin, bukan? Sebuah trik kotor!]

[Chuyan: Tidak ada uang saku.]

[Ini Nuannuan: Haha, kau pembohong! Aku membencimu!]

[Chuyan: Sungguh.]

[Ini Nuannuan: Teruslah karang saja ceritamu. Sejujurnya, kau adalah aktor yang baik. Ini pertama kalinya aku melihat seseorang berpura-pura tidak tahu malu dengan begitu baik. Aku terkesan.]

[Chuyan: ……]

Xiang Nuan merasa bahwa meskipun Chuyan tidak tahu malu, dia juga cukup cerdas.

Berpura-pura miskin untuk meningkatkan uang sakunya sepertinya trik yang sangat layak.

Dia juga ingin mencoba dan melihat cara kerjanya.

Dia membajak gambar dari Momen Chuyan yang menurutnya adalah yang terbaik di antara semuanya. Setelah mempertimbangkan dengan cermat, dia memutuskan untuk menyalin keterangannya juga.

Hei, dia benar-benar ingin merendahkan dirinya sendiri.

Karena terlalu bersemangat, dia lupa mengingat untuk menetapkan batasan siapa yang bisa melihatnya, jadi semua temannya bisa melihat Momen ini.

Saat itu jam 11 malam, Shen Zemu baru saja menyelesaikan pekerjaan rumahnya untuk hari ini. Dia mengangkat kepalanya dari mejanya, satu tangan memegang secangkir air dan yang lainnya menjelajahi ponselnya dan kebetulan melihat Momen Xiang Nuan:

Lapar, aku ingin mengambilnya jika dari mereka. (Dengan gambar kucing liar makan sosis panggang)

Bruuust---

Shen Zemu tidak sengaja menyemprotkan air ke pekerjaan rumahnya.

Gadis itu.... Shen Zemu dengan hati-hati mengingat tatapan Xiang Nuan. Dia terlihat cukup anggun, tapi sebenarnya dia orang gila.

Comments

Popular posts from this blog

Those Sweet Times - Chapter 1

Those Sweet Times - Chapter 2